- bebas dari korupsi dan wilayah birokrasi bersih dan melayani akan tercapai dengan merubah sistim pelayanan - peta wilayah kantor

Sabtu, 25 September 2010

Sertifikat GDM


PEMBERITAHUAN
SERTIFIKAT PELATIHAN GDM (Gawat Darurat Medik)

Diberitahukan kepada para Peserta Pelatihan Gawat Darurat Medik di Bogor tanggal 27 s.d. 31 Juli 2010 yang diselenggarakan oleh KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) Kelas I Tanjung Priok. Bahwa Sertifikat telah dikirim lewat Pos pada Hari Kamis 23 September 2010 kepada masing masing peserta. Mohon konfirmasi kepada Panitia Pelatihan jika sertifikat telah diterima (Ibu Syaflovida / Ibu Devi, phone : (021) 43931045 pswt Bidang UKLW).

Senin, 11 Januari 2010

ANTISIPASI LONJAKAN KASUS INFLUENZA H1N1 DI WILAYAH KERJA

Situasi penyakit Flu Burung atau Avian Influenza yang disebabkan oleh Virus H5N1 dan Flu Baru H1N1 di Indonesia pada saat ini memerlukan perhatian yang serius, karena sejauh ini dunia belum mampu mengatasi penyebaran secara efektif. Yang perlu menjadi perhatian adalah adanya kemungkinan terjadinya mutasi dari kedua virus tersebut, yang dapat memicu terjadinya pandemi. Pandemi influenza ini akan menyebabkan banyak orang jatuh sakit, bahkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar.

World Health Organization (WHO) pada tanggal 11 Juni 2009 telah menyatakan pandemi global pada fase 6 atau fase terakhir dimana dinyatakan bahwa pandemi influenza tersebut telah menyebar ke 5 regional wilayah dunia. Keadaan ini mengindikasikan bahwa seluruh negara termasuk Indonesia harus mengaktifkan rencana persiapan pandemik sebagai wabah penyakit global.

Data terakhir WHO sampai 30 Agustus 2009 kasus Flu Baru N1H1 telah menyebar di 179 negara dan territorial dengan jumlah penderita seluruhnya 254.206 orang dengan 2.837 kematian (1,11%). Sedangkan di Indonesia dilaporkan oleh 25 provinsi sampai pada tanggal 2 September 2009 dengan jumlah penderita 1.097 kasus konfirmasi dengan 10 kematian. Sehubungan dengan hal tersebut Departemen Kesehatan telah mengeluarkan Langkah-Langkah Kesiagaan Menghadapi Perkembangan Kasus Flu Baru agar Institusi kesehatan di Propinsi dan Kabupaten / Kota serta Unit Pelaksana Teknis (UPT), antara lain :

  1. Surveilans Epidemiologi

  2. Uji Pemerikasaan Laboratorium Konfirmasi Influenza A Baru (H1N1)

  3. Melakukan Tatalaksana Kasus

  4. Terapi Antiviral

  5. Perawatan di rumah bagi pasien yang sakit ringan atupun sesudah pulang rawat inap, yaitu:

  • Tetap tinggal di rumah, hindari berpergian ke tempat–tempat umum.

  • Obat Oseltamivir yang diberikan dokter harus dihabiskan dan diminum sesuai aturan

  • Gunakan masker jika berbicara dengan orang lain

  • Selalu cuci tangan sesudah bersin dan batuk

  • Buang tissue/masker bekas ke tempat sampah tertutup

  • Batasi kunjungan tamu di rumah

  • Konsumsi makanan bergizi

  • Banyak minum air putih

  • Istirahat tidur yang cukup

  • Jika terjadi peningkatan suhu tubuh, batuk dan sesak napas, segera kembali ke rumah sakit.

6. Peningkatan KIE pada masyarakat

  • Cara penularan, pencegahan penularan penyakit influenza dengan menerapkan PHBS,

  • Penderita kasus ringan maupun kasus pulang rawat dari rumah sakit diberi konseling agar tetap tinggal di rumah,

  • Peningkatan kewaspadaan para tenaga kesehatan terhadap penderita yang memiliki risiko,

  • Sekolah, pondok pesantren dan asrama agar mewaspadai adanya klaster kasus maupun langkah penanggulangannya termasuk langkah memisahkan penderita dari yang sehat.

    Bersama–sama RS Rujukan, RS Umum Daerah, RS Swasta agar menyiagakan jejaring kerja dan jejaring dukungan sumber daya dalam mengantisipasi lonjakan kasus yang perlu dirawat.

Untuk memperoleh dukungan sumberdaya dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 di Pintu Masuk Negara, khususnya di wilayah pelabuhan Tanjung Priok dan Wilayah Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan(KKP) Kelas I Tanjung Priok maka pertemuan – pertemuan jejaring kerja telah dilaksanakan secara intensif. Penyelenggaraan pertemuan jejaring kerja dan kemitraan yang diselenggarakan pada wilayah kerja KKP Kelas I Tanjung Priok ini dilakukan di Wilayah Kerja Pelabuhan Sunda Kelapa, Muara Baru, Marunda, Muara Angke dan Kalibaru.

Pertemuan jejaring kerja dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 di Wilayah Kerja Pelabuhan Sunda Kelapa dilaksanakan pada tahun 2009 yang diikuti oleh seluruh stake holder terkait di Pelabuhan Sunda Kelapa. Beberapa foto – foto penyelenggaraan pertemuan tersebut, disajikan dibawah ini :

Pertemuan jejaring kerja dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 di Wilayah Kerja Pelabuhan Muara Baru dilaksanakan pada tahun 2009 yang diikuti oleh seluruh stake holder terkait di Pelabuhan Muara Baru. Beberapa foto – foto penyelenggaraan pertemuan tersebut, disajikan dibawah ini.

Pertemuan jejaring kerja dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 di Wilayah Kerja Pelabuhan Marunda dilaksanakan pada tahun 2009 yang diikuti oleh seluruh stake holder terkait di Pelabuhan Marunda. Beberapa foto – foto penyelenggaraan pertemuan tersebut, disajikan dibawah ini.

Pertemuan jejaring kerja pada tahun 2009 dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 ini juga dilaksanakan di Wilayah Kerja Pelabuhan Muara Angke dan Wilayah Kerja Pelabuhan Kalibaru yang diikuti oleh seluruh stake holder terkait. (RBAW)

Bersama–sama RS Rujukan, RS Umum Daerah, RS Swasta agar menyiagakan jejaring kerja dan jejaring dukungan sumber daya dalam mengantisipasi lonjakan kasus yang perlu dirawat. Untuk memperoleh dukungan sumberdaya dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 di Pintu Masuk Negara, khususnya di wilayah pelabuhan Tanjung Priok dan Wilayah Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan(KKP) Kelas I Tanjung Priok maka pertemuan – pertemuan jejaring kerja telah dilaksanakan secara intensif. Penyelenggaraan pertemuan jejaring kerja dan kemitraan yang diselenggarakan pada wilayah kerja KKP Kelas I Tanjung Priok ini dilakukan di Wilayah Kerja Pelabuhan Sunda Kelapa, Muara Baru, Marunda, Muara Angke dan Kalibaru.

Pertemuan jejaring kerja dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 di Wilayah Kerja Pelabuhan Sunda Kelapa dilaksanakan pada tahun 2009 yang diikuti oleh seluruh stake holder terkait di Pelabuhan Sunda Kelapa. Beberapa foto – foto penyelenggaraan pertemuan tersebut, disajikan dibawah ini.

Pertemuan jejaring kerja dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 di Wilayah Kerja Pelabuhan Muara Baru dilaksanakan pada tahun 2009 yang diikuti oleh seluruh stake holder terkait di Pelabuhan Muara Baru. Beberapa foto – foto penyelenggaraan pertemuan tersebut, disajikan dibawah ini.

Pertemuan jejaring kerja dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 di Wilayah Kerja Pelabuhan Marunda dilaksanakan pada tahun 2009 yang diikuti oleh seluruh stake holder terkait di Pelabuhan Marunda. Beberapa foto – foto penyelenggaraan pertemuan tersebut, disajikan dibawah ini.

Pertemuan jejaring kerja pada tahun 2009 dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 ini juga dilaksanakan di Wilayah Kerja Pelabuhan Muara Angke dan Wilayah Kerja Pelabuhan Kalibaru yang diikuti oleh seluruh stake holder terkait. (Kepala Bidang Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi, Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Tanjung Priok, 2009).@ admin

Rapat Koordinasi Kekarantinaan di Wilayah Kerja Marunda

ANTISIPASI LONJAKAN KASUS INFLUENZA H1N1 DI WILAYAH KERJA

Situasi penyakit Flu Burung atau Avian Influenza yang disebabkan oleh Virus H5N1 dan Flu Baru H1N1 di Indonesia pada saat ini memerlukan perhatian yang serius, karena sejauh ini dunia belum mampu mengatasi penyebaran secara efektif. Yang perlu menjadi perhatian adalah adanya kemungkinan terjadinya mutasi dari kedua virus tersebut, yang dapat memicu terjadinya pandemi. Pandemi influenza ini akan menyebabkan banyak orang jatuh sakit, bahkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar.

World Health Organization (WHO) pada tanggal 11 Juni 2009 telah menyatakan pandemi global pada fase 6 atau fase terakhir dimana dinyatakan bahwa pandemi influenza tersebut telah menyebar ke 5 regional wilayah dunia. Keadaan ini mengindikasikan bahwa seluruh negara termasuk Indonesia harus mengaktifkan rencana persiapan pandemik sebagai wabah penyakit global.

Data terakhir WHO sampai 30 Agustus 2009 kasus Flu Baru N1H1 telah menyebar di 179 negara dan territorial dengan jumlah penderita seluruhnya 254.206 orang dengan 2.837 kematian (1,11%). Sedangkan di Indonesia dilaporkan oleh 25 provinsi sampai pada tanggal 2 September 2009 dengan jumlah penderita 1.097 kasus konfirmasi dengan 10 kematian. Sehubungan dengan hal tersebut Departemen Kesehatan telah mengeluarkan Langkah-Langkah Kesiagaan Menghadapi Perkembangan Kasus Flu Baru agar Institusi kesehatan di Propinsi dan Kabupaten / Kota serta Unit Pelaksana Teknis (UPT), antara lain :

  1. Surveilans Epidemiologi

  2. Uji Pemerikasaan Laboratorium Konfirmasi Influenza A Baru (H1N1)

  3. Melakukan Tatalaksana Kasus

  4. Terapi Antiviral

  5. Perawatan di rumah bagi pasien yang sakit ringan atupun sesudah pulang rawat inap, yaitu:

  • Tetap tinggal di rumah, hindari berpergian ke tempat–tempat umum.

  • Obat Oseltamivir yang diberikan dokter harus dihabiskan dan diminum sesuai aturan

  • Gunakan masker jika berbicara dengan orang lain

  • Selalu cuci tangan sesudah bersin dan batuk

  • Buang tissue/masker bekas ke tempat sampah tertutup

  • Batasi kunjungan tamu di rumah

  • Konsumsi makanan bergizi

  • Banyak minum air putih

  • Istirahat tidur yang cukup

  • Jika terjadi peningkatan suhu tubuh, batuk dan sesak napas, segera kembali ke rumah sakit.

6. Peningkatan KIE pada masyarakat

  • Cara penularan, pencegahan penularan penyakit influenza dengan menerapkan PHBS,

  • Penderita kasus ringan maupun kasus pulang rawat dari rumah sakit diberi konseling agar tetap tinggal di rumah,

  • Peningkatan kewaspadaan para tenaga kesehatan terhadap penderita yang memiliki risiko,

  • Sekolah, pondok pesantren dan asrama agar mewaspadai adanya klaster kasus maupun langkah penanggulangannya termasuk langkah memisahkan penderita dari yang sehat.

    Bersama–sama RS Rujukan, RS Umum Daerah, RS Swasta agar menyiagakan jejaring kerja dan jejaring dukungan sumber daya dalam mengantisipasi lonjakan kasus yang perlu dirawat.

Untuk memperoleh dukungan sumberdaya dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 di Pintu Masuk Negara, khususnya di wilayah pelabuhan Tanjung Priok dan Wilayah Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan(KKP) Kelas I Tanjung Priok maka pertemuan – pertemuan jejaring kerja telah dilaksanakan secara intensif. Penyelenggaraan pertemuan jejaring kerja dan kemitraan yang diselenggarakan pada wilayah kerja KKP Kelas I Tanjung Priok ini dilakukan di Wilayah Kerja Pelabuhan Sunda Kelapa, Muara Baru, Marunda, Muara Angke dan Kalibaru.

Pertemuan jejaring kerja dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 di Wilayah Kerja Pelabuhan Sunda Kelapa dilaksanakan pada tahun 2009 yang diikuti oleh seluruh stake holder terkait di Pelabuhan Sunda Kelapa. Beberapa foto – foto penyelenggaraan pertemuan tersebut, disajikan dibawah ini :

Pertemuan jejaring kerja dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 di Wilayah Kerja Pelabuhan Muara Baru dilaksanakan pada tahun 2009 yang diikuti oleh seluruh stake holder terkait di Pelabuhan Muara Baru. Beberapa foto – foto penyelenggaraan pertemuan tersebut, disajikan dibawah ini.

Pertemuan jejaring kerja dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 di Wilayah Kerja Pelabuhan Marunda dilaksanakan pada tahun 2009 yang diikuti oleh seluruh stake holder terkait di Pelabuhan Marunda. Beberapa foto – foto penyelenggaraan pertemuan tersebut, disajikan dibawah ini.

Pertemuan jejaring kerja pada tahun 2009 dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 ini juga dilaksanakan di Wilayah Kerja Pelabuhan Muara Angke dan Wilayah Kerja Pelabuhan Kalibaru yang diikuti oleh seluruh stake holder terkait. (RBAW)

Bersama–sama RS Rujukan, RS Umum Daerah, RS Swasta agar menyiagakan jejaring kerja dan jejaring dukungan sumber daya dalam mengantisipasi lonjakan kasus yang perlu dirawat. Untuk memperoleh dukungan sumberdaya dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 di Pintu Masuk Negara, khususnya di wilayah pelabuhan Tanjung Priok dan Wilayah Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan(KKP) Kelas I Tanjung Priok maka pertemuan – pertemuan jejaring kerja telah dilaksanakan secara intensif. Penyelenggaraan pertemuan jejaring kerja dan kemitraan yang diselenggarakan pada wilayah kerja KKP Kelas I Tanjung Priok ini dilakukan di Wilayah Kerja Pelabuhan Sunda Kelapa, Muara Baru, Marunda, Muara Angke dan Kalibaru.

Pertemuan jejaring kerja dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 di Wilayah Kerja Pelabuhan Sunda Kelapa dilaksanakan pada tahun 2009 yang diikuti oleh seluruh stake holder terkait di Pelabuhan Sunda Kelapa. Beberapa foto – foto penyelenggaraan pertemuan tersebut, disajikan dibawah ini.

Pertemuan jejaring kerja dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 di Wilayah Kerja Pelabuhan Muara Baru dilaksanakan pada tahun 2009 yang diikuti oleh seluruh stake holder terkait di Pelabuhan Muara Baru. Beberapa foto – foto penyelenggaraan pertemuan tersebut, disajikan dibawah ini.

Pertemuan jejaring kerja dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 di Wilayah Kerja Pelabuhan Marunda dilaksanakan pada tahun 2009 yang diikuti oleh seluruh stake holder terkait di Pelabuhan Marunda. Beberapa foto – foto penyelenggaraan pertemuan tersebut, disajikan dibawah ini.

Pertemuan jejaring kerja pada tahun 2009 dalam mengantisipasi lonjakan kasus Influenza A H1N1 ini juga dilaksanakan di Wilayah Kerja Pelabuhan Muara Angke dan Wilayah Kerja Pelabuhan Kalibaru yang diikuti oleh seluruh stake holder terkait. (Kepala Bidang Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi, Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Tanjung Priok, 2009).@ admin

Rapat Koordinasi Kekarantinaan di Wilayah Kerja Marunda

Minggu, 15 November 2009

Penyakit Kaki Gajah (Filariasis)

Filariasis adalah penyakit menular ( Penyakit Kaki Gajah ) yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Akibatnya penderita tidak dapat bekerja secara optimal bahkan hidupnya tergantung kepada orang lain sehingga memnjadi beban keluarga, masyarakat dan negara. Di Indonesia penyakit Kaki Gajah tersebar luas hampir di Seluruh propinsi. Berdasarkan laporan dari hasil survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231 Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang. Hasil survai laboratorium, melalui pemeriksaan darah jari, rata-rata Mikrofilaria rate (Mf rate) 3,1 %, berarti sekitar 6 juta orang sudah terinfeksi cacing filaria dan sekitar 100 juta orang mempunyai resiko tinggi untuk ketularan karena nyamuk penularnya tersebar luas. Untuk memberantas penyakit ini sampai tuntas

WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global ( The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health problem by The Year 2020 (. Program eliminasi dilaksanakan melalui pengobatan missal dengan DEC dan Albendazol setahun sekali selama 5 tahun dilokasi yang endemis dan perawatan kasus klinis baik yang akut maupun kronis untuk mencegah kecacatan dan mengurangi penderitanya. Indonesia akan melaksanakan eliminasi penyakit kaki gajah secara bertahap dimulai pada tahun 2002 di 5 kabupaten percontohan. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap tahun. Penyebab penyakit kaki gajah adalah tiga spesies cacing filarial yaitu; Wucheria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Vektor penular : Di Indonesia hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes & Armigeres yang dapat berperan sebagai vector penular penyakit kaki gajah.

Cara Penularan :
Seseorang dapat tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III ( L3 ). Nyamuk tersebut mendapat cacing filarial kecil ( mikrofilaria ) sewaktu menghisap darah penderita mengandung microfilaria atau binatang reservoir yang mengandung microfilaria. Siklus Penularan penyakit kaiki gajah ini melalui dua tahap, yaitu perkembangan dalam tubuh nyamuk ( vector ) dan tahap kedua perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) dan reservoair.
Gejala klinis Filariais Akut adalah berupa ; Demam berulang-ulang selama 3 ? 5 hari, Demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat ; pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiap (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit ; radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis) ; filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah ; pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early lymphodema). Gejal klinis yang kronis ; berupa pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti).

Diagnosis
Filariasis dapat ditegakkan secara Klinis ; yaitu bila seseorang tersangka Filariasis ditemukan tanda-tanda dan gejala akut ataupun kronis ; dengan pemeriksaan darah jari yang dilakukan mulai pukul 20.00 malam waktu setempat, seseorang dinyatakan sebagai penderita Filariasis, apabila dalam sediaan darah tebal ditemukan mikrofilaria. Pencegahan ; adalah dengan berusaha menghindarkan diri dari gigitan nyamuk vector ( mengurangi kontak dengan vector) misalnya dengan menggunakan kelambu bula akan sewaktu tidur, menutup ventilasi rumah dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk semprot atau obat nyamuk baker, mengoles kulit dengan obat anti nyamuk, atau dengan cara memberantas nyamuk ; dengan membersihkan tanaman air pada rawa-rawa yang merupakan tempat perindukan nyamuk, menimbun, mengeringkan atau mengalirkan genangan air sebagai tempat perindukan nyamuk ; membersihkan semak-semak disekitar rumah.

Pengobatan :
secara massal dilakukan didaeah endemis dengan menggunakan obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dikombinasikan dengan Albenzol sekali setahun selama 5 ? 10 tahun, untuk mencegah reaksi samping seperti demam, diberikan Parasetamol ; dosis obat untuk sekali minum adalah, DEC 6 mg/kg/berat badan, Albenzol 400 mg albenzol (1 tablet ) ; pengobatan missal dihentikan apabila Mf rate sudah mencapai < 1 % ; secara individual / selektif; dilakukan pada kasus klinis, baik stadium dini maupun stadium lanjut, jenis dan obat tergantung dari keadaan kasus.

Sumber berita